Kita bukan bangsa pemalas..
Kemarin disebuah tempat makan saya secara tidak sengaja mendengar pembicaraan orang disebelah saya (beneran tidak bermaksud menguping loh,secara mereka lumayan jelas berbicaranya). Dan karena hanya mendengar, maka saya tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya mendengarkan dan menahan jengkel. Karena akan sangat tidak lucu kalau saya ikut nimbrung bahkan mendebat pembicaraan mereka. Makanya saya hanya bisa ngrundel sendiri dan akhirnya menuliskan gerundelan saya itu disini (halah..).
Kata mbak dan mas dimeja sebelah saya itu, kita –Bangsa Indonesia ini- adalah bangsa pemalas. Padahal ketika saya amati, mereka sepertinya juga penduduk pribumi, bahasa Indonesia mereka juga jelas tidak kebule-bulean bahkan terasa agak medok jawa kayak saya. Jadi bisa dipastikan kalau mereka itu masih Warga Negera Indonesia. Dengan kata lain mereka mengatai diri mereka sendiri, karena bukankah mereka bagian di dalamnya.
Pendapat negatif tentang bangsa Indonesia sering kita dengar. Bukan hal baru bila dikatakan bangsa korup, tertinggal, berpendidikan rendah, banyak barang bajakan, jiwa entrepreneurshipnya rendah, dll. Tidak hanya orang luar yang berkomentar, namun orang Indonesia sendiri, sering bangga mengatakan hal yang sama.
Padahal menurut teori psikilogi, bila kita terus menerus menyemangati diri kita sendiri, kita bisa, kita bisa, kita mampu, maka akan muncul semangat, kepercayaan diri dan akhirnya muncul kemampuan bahwa kita memang bisa. Begitupun bila terus menerus kita dikatakan terbelakang, bodoh, tidak berkembang, maka lama-lama kita akan percaya bahwa itulah kita.
Mungkin saja ada sedikit benarnya pendapat itu kalau kita melihatnya hanya dari jendela sebuah rumah mewah dan jauh dari realita sosial. Ada banyak orang yg dengan sadarnya meminta-minta, ada banyak orang berebut kala penerimaan BLT, ada banyak orang yg lebih senang menghabiskan waktu mereka nyangkruk diwarung, nongkrong dipinggir jalan, dan ada banyak pengangguran diluar sana.
Ya, itu semua betul. Tapi cobalah sudut pandang lain. Bangunlah kala subuh dan menuju pasar. Lihatlah geliat pagi disana. Jauh sebelum matahari mengintip, banyak dari mereka yang sudah bergegas menjemput rejeki. Dari yg masih muda sampai dengan yg sudah sepuh, dari pedagang dg omset jutaan sampai pedagang sayur dg untung puluhan ribu, dari juragan sampai kuli panggul, perempuan dan laki-laki. Masihkah kita bisa mengatakan kalau bangsa kita pemalas?
Lihatlah Mbah Mi langganan sayur saya, dalam usia yang tidak lagi muda dan punggung yg mulai membungkuk terus menggendong beban berat yang di jajakannya setiap pagi dan sore, namun tetap saja keuntungan yang diperolehnya tidak pernah bisa merubah menu makannya. Lalu Pak Ji Becak yg dg sabarnya menggayuh becaknya puluhan tahun, yg walaupun demikian tetap saja belum mampu untuk pindah dari rumah kontrakannya. Padahal diluar sana ada puluhan, ratusan bahkan mungkin jutaan Pak Ji dan Mbah Mi lainnya. Belum lagi kalau kita melihat puluhan anak kecil diperempatan jalan yg menjajakan koran atau membawa kuas semir hanya untuk menambah biaya sekolah karena penghasilan orang tuanya yg tidak pernah cukup. Jadi masih salahkah bila mereka sedikit berharap kala ada pembagian BLT?
Jika contoh relita sosial yang biasa kita saksikan adalah demikian, masih tegakah kita mengatakan bahwa bangsa ini pemalas? Masih tegakah anak manja yang tidak pernah dihiasi cucuran keringat demi mendapatkan secuil upah itu membenarkan diri dg mengatakan bahwa bangsa ini adalah bangsa pemalas?
Lalu bagaimana juga dg ibu-ibu yg meneteskan air mata tanpa isakan tangis, saat sekolah begitu mahal bahkan sekarang makan pun sangat kesulitan. Mereka begitu hebat menyiasati sepuluh ribu rupiah per hari untuk menghidupi lima orang anak. Mereka berkutat dalam lingkaran kurang gizi, pendidikan rendah dan ekonomi susah. Apakah mereka termasuk bangsa pemalas?
TIDAK, bangsa ini bukan bangsa pemalas. Bangsa ini adalah bangsa pekerja keras yg disetiap darahnya mengalir darah para pejuang kehidupan. Bangsa ini adalah bangsa yg kuat. Berhentilah mengatakan atau berfikir bahwa bangsa ini adalah bangsa pemalas, sebab bangsa ini memiliki kekuatan yg luar biasa, bangsa ini telah terlatih menghadapi penderitaan apapun.
Bila saat ini kita terpuruk, itu hanyalah karena ulah sebagian kecil pengkhianat yg mencuri di negerinya sendiri. Mereka miskin, tapi bukan karena malas. Mereka orang-orang besar, meneteskan keringat dari subuh sampai malam, untuk hidup. Setiap hari, mereka bekerja. Tidak mengenal libur akhir pekan. Mereka disebut orang kecil, karena kita yang mengenyam pendidikan puluhan tahun, harusnya menjadi orang besar yang sanggup mengangkat derajat mereka. Namun banyak di antara kita terlena, pura-pura sok peduli tapi tidak melakukan tindakan apa-apa. Karena terkadang kita, orang-orang yg sedikit diberi kelebihan oleh-Nya masih begitu enggan menggenggam tangan-tangan mulia itu. Memberikan sedikit ilmu kita, mendermakan setitik harta kita.
Tugas kita bersamalah untuk kembali mengangkat martabat itu kembali. Mari kita bersama berjuang dengan orang-orang kecil yang berjiwa besar ini.
Mulai dg melakukan hal-hal kecil pada diri dan lingkungan sekitar kita. Saya percaya bila kita melakukannya bersama-sama maka akan menghasilkan perubahan besar. Hingga saat anak-anak kita lahir, kita bisa mengatakan pada mereka, bahwa kita memang bangsa besar bukan bangsa pemalas..
Next......






















