Ajeng's Blog

Setiap sesuatu itu berkurang jika diinfakkan kecuali ilmu [Ali bin Abi Thalib r.a.]

Selalu ada jalan keluar…


Aku pengen curhat, butuh nasehatmu..” Sebaris pesan pendek masuk ke HPku suatu hari, dari seorang teman baik. Sebagai teman saya datang padanya, mendengarkan, lalu sebisa mungkin membantunya memberikan jalan keluar. Dan diapun menjawab,”Iya sih. Temen-temen yang lain juga kasih saran begitu, tapi…”

Seringkah kita mendapati hal seperti itu? Atau jangan-jangan justru kita sendiri pernah berbuat seperti itu? Ketika kita meminta bantuan pada seseorang, dan lalu orang itu dengan ikhlas mencoba untuk membantu sebisa mungkin, mencoba memberikan solusi, ternyata seringkali kita masih mengatakan “tapi”.

Dalam kasus teman saya di atas, saya sempat bertanya sudahkah dia menanyakannya pada orang lain? Dan jawabnya hampir semua teman mempunyai saran seperti yang saya sampaikan. “Lalu?” Tanya saya kemudian.. Diapun menceritakan panjang lebar alasannya tidak bisa menerima pendapat kami.

Ehm..Saya jadi berpikir, apakah ketika kita meminta bantuan saran dan solusi dari seseorang sebenarnya kita itu benar-benar membutuhkan sebuah solusi atau kita hanya mencari pembenaran atas keterpurukan kita?

Jika kita serius mencari solusi, lalu kenapa kita masih mengatakan “tapi” saat ada solusi. Meskipun solusi tersebut kadang terlihat tidak mungkin dipikiran kita. Kenapa kita tidak mencoba untuk berpikir terbuka, sebab seringkali bukan tidak ada solusi atau solusi yang diberikan seseorang pada kita itu tidak mungkin, tetapi orang sering menutup pikirannya untuk solusi. Bukankah akan lebih baik kita tanyakan saja, “Bagaimana caranya?” daripada kita mengatakan “tapi”. Bisa jadi apa yang sebelumnya terlihat mustahil, berubah menjadi hal mudah setelah tahu caranya.

Kebiasaan kita yang sering mendramatisir seolah tidak ada jalan lain lagi jugalah yang seringkali mempersempit pandangan kita. Jika kita menemukan sebuah jalan buntu, memang kita tidak akan menemukan jalan keluar jika kita hanya berpikir itu satu-satunya jalan. Padahal, di luar sana masih banyak jalan lain yang masih bisa kita lalui.

Jadi, tenang, berdo’a, dan carilah solusi diiringi pikiran yang terbuka. Kadang tanpa kita sadari solusi datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Bisa jadi solusi datang dari orang yang tidak kita kenal sama sekali. Yakinlah akan pertolongan Allah. Perluas cakrawala kita sehingga kita akan melihat bahwa jalan itu tidak satu.

Kata orang bijak, semakin tinggi kita naik ke atas gunung atau gedung bertingkat, kita akan melihat bahwa sebenarnya banyak jalan yang bisa kita lalui। Jika kita tidak melihat banyak jalan, artinya, karena kita masih berdiam diri di bawah…


Gambar diatas diambil dari sini


Next......

Potensi diri

Gambar diambil dari sini
Ada kebiasaan saya yang dulu begitu mudah saya lakukan, namun dengan semakin bertambahnya usia saya hal itu menjadi sesuatu yang sulit. Kebiasaan mengambil selembar kertas, membaginya menjadi dua lalu menuliskan (+) di satu sisi dan (-) di sisi lainnya. Lalu setiap kali saya menemukan kelebihan yang ada pada diri saya maka sayapun akan dengan senang hati menuliskannya pada sisi (+). Begitupun ketika saya menemukan kekurangan, maka saya akan menuliskannya pada sisi (-). Karena itu hanya catatan untuk saya sendiri maka saya menulisnya dengan sejujur-jujurnya.

Dalam beberapa hari akan jadilah sebuah daftar kelebihan dan kekurangan saya. Untuk kemudian saya ulangi lagi sehingga saya menemukan beberapa yang permanen menempel pada saya, baik kelebihan maupun kekurangannya. Kebiasaan yang menyenangkan sebenarnya, karena darinya saya jadi tahu bahwa sebenarnya saya itu punya kelebihan dan kekurangan. Kelebihan yang ada akan membuat saya makin percaya diri, sedangkan kekurangan yang ada akan membuat saya berusaha memperbaikinya. Kebiasaan ini aku lakukan gara-gara (kalau tidak salah) aku membaca sebuah buku motivasi (judul dan pengarangnya lupa) tentang potensi diri.

Namun entah karena apa, kebiasaan itu tidak pernah saya lakukan lagi sejak lama. Mulanya aku pikir karena kesibukan, tapi belakangan saya tahu bukan itu sebabnya. Karena ketika saya punya waktu cukup senggang dan saya mencoba melakukan kebiasaan itu lagi, saya merasa kesulitan untuk melakukannya.

Ternyata sekarang saya lebih mudah ketika menuliskan kelemahan atau kekurangan saya ketimbang menuliskan kelebihan atau bakat saya yang menonjol. Sepertinya sekarang saya begitu sulit untuk mengungkapkan kelebihan saya (karena setiap kali saya akan menuliskannya saya merasa tidak begitu yakin), tetapi saya bisa dengan ringan menulis betapa saya kurang sabaran, malas, keras kepala, ceroboh dan sejuta kekurangan saya lainnya. Hal ini membuat saya sempat termangu. Mengapa seperti itu?

Apakah semakin kesini saya semakin tidak mempunyai kelebihan? Bohong kalau saya berkata iya, karena tentu saja saya terus berkembang (semoga memang lebih baik). Lalu? Ah, mungkinkah karena pemahaman akan kebudayaan kita yang selalu menekankan pada kita betapa pentingnya rendah hati? Sampai ada peribasa yang dibuat untuk mengingatkan kita akan hal itu pakailah ilmu padi yang semakin berisi semakin merunduk. Salahkah semua itu? Tentu saja tidak. Tetapi disadari atau tidak disadari, hal itu mendorong saya untuk berhati-hati dalam bersikap. Salah-salah saya bisa dianggap sebagai orang yang sombong kalau merasa diri mempunyai kelebihan.

Memang kurang baik untuk memiliki rasa percaya diri yang berlebihan. Tetapi menutupi dan menyelubunginya pun akan membuat kita sering mempunyai gambaran diri yang salah. Tidak semua kemampuan diri yang tidak diucapkan menunjukkan bahwa seseorang itu rendah hati.

Sekarang, rasanya saya perlu lebih banyak belajar untuk bisa mengenali kelebihan dan kekurangan saya dengan lebih objektif lagi seperti ketika saya kecil dulu. Karena saya percaya bahwa seseorang diciptakan lengkap dengan talenta dan keterbatasannya. Ketidakseimbangan mengenali keduanya, sepertinya membuat saya seakan tidak bersyukur pada Sang Pemberi Talenta.

Tidak ada salahnya juga kalau saya kembali melakukan lagi kebiasaan saya yang dulu, karena membuat daftar dengan jujur seperti itu maka secara tidak langsung saya sudah bisa menerima diri saya apa adanya bahkan saya bisa menggali potensi diri saya. Bahwa itulah adanya saya, tidak kurang dan tidak saya lebihkan. Tidak mudah memang, tapi saya akan mencobanya lagi. Tertarik untuk mencobanya juga..?

Next......

Tentang sesuatu…


“Ojo sok seneng mbenerne salahe dewe lan nyalahne benere liyan” itu salah satu kata-kata embah putri saya (semoga dilapangkan kubur dan dimudahkan segala urusan beliau). Yang kalau diterjemahkan secara bebas kedalam Bahasa Indonesia kurang lebih “Jangan suka membenarkan kesalahan diri sendiri dan menyalahkan orang lain.” Ehm..simple ya sebenarnya tapi entah kenapa saya merasa kata-kata itu tidak sesimple kedengarannya.

Sering sekali bukan kita terjebak untuk membenarkan tindakan kita sendiri, atau setidaknya mencari pembenaran untuk apa yang sudah kita lakukan. Tidak perduli atas nama apakah kebenaran yang kita catut untuk mendukung tindakan kita itu. Lebih parah lagi kalau beranggapan kalau yang tidak mendukung kebenaran kita itu adalah tidak benar.

Anggaplah kita memang telah memegang suatu standar sebagai alat ukur setiap kegiatan dalam kehidupan kita, dan kita yakini kebenarannya. Tapi supaya lebih baik saat menggunakan alat ukur dalam mengukur sesuatu, alangkah perlunya kita mengetahui sifat dan karakteristik alat ukur yang kita gunakan. Jika kita tidak mengenal alat ukur yang kita gunakan, apalagi tidak tahu cara menggunakannya, walaupun kita yakini alat ukur kita benar, maka hasil pengukuran tentulah tidak akan akurat, dan boleh jadi malah alat ukur kita menjadi rusak.

Susahnya alat ukur kebenaran masing-masing orang itu berbeda-beda. Hayo, beraja jawabmu untuk 1+1 ? Bukankah hasilnya bisa 4:2, bisa 10-6-2, bisa 20-16 kemudian ditambah 5 kemudian dikurangi lagi dengan 7, bisa juga akar kuadrat 144 trus dibagi lagi dengan 6, bisa 3-1, atau..bisa juga langsung hasilnya sama dengan 2! Ya, semua jawaban itu adalah benar semua nilainya walau dari berbagai sisi dan cara mencari jawabnya.

Tapi kenapa banyak dari kita sering sekali dalam mencari tahu kebenaran sesuatu maupun orang lain itu dengan cara cepat saja, kita tidak mencoba mencari tahu dari sisi maupun dengan jalan lain untuk pembuktian. Memang banyak cara dan jalan untuk mengetahui nilai kebenaran itu.

Ada orang yang dengan susah payah ingin menemukan kebenaran keyakinan yang dia miliki dengan perjalanan spiritual yang cukup lama hingga sampai mengalami pengalaman rohani yang indah untuk menuntun kemurnian iman keyakinan dia akan Tuhan. Seperti cara kita untuk menjawab hasil 2 tadi kan? Untuk mencapai hasil 2 harus diakar kuadratkan dulu kemudian operasi lain dan juga perhitungan lain. Tapi ada juga kalanya kebenaran sesuatu atau orang lain itu langsung didapatkan dengan berpikir pendek dan cepat bahkan langsung menelan mentah-mentah.

Sedikit memang orang yang mau bersabar dan mencoba memilah-milah informasi dan berpikir panjang dalam menilai sesuatu apalagi orang lain sesamanya. Terkadang kita tidak mengalami proses operasi yang matematis dalam melakukan penilaian terhadap sesamanya dengan berpikir positif. Orang-orang pasti akan lebih cepat memilih 1+1=2 dalam melihat atau menilai manusia.

Menurut saya kebenaran itu bisa diterima setidaknya jika tidak melanggar 3 aturan atau norma. Pertama tidak melanggar norma agama (dan karena saya muslim maka alat ukur yang harus saya pegang dan yakini kebenarannya adalah Alquran dan Assunah), kedua tidak melanggar aturan negara (walau kita tahu bahwa hukum dinegara kita sedikit kacau balau, tapi itu bukan alasan untuk lalu kita bebas melanggarnya bukan), dan yang terakhir adalah norma masyarakat (karena kita hidup didalam lingkungan masyarakat, kecuali kita hidup sendirian didalam hutan ^_^).

Tapi bukannya kadang yang dianggap benar disuatu masyarakat tidak benar menurut norma agama, yang tidak benar menurut negara kadang tidak patut menurut kacamata agama? Atau sebaliknya? Ya, memang kadang demikian. Tapi menurut saya kalau sesuatu itu benar seharusnya berada dalam koridor 3 ranah tadi. Tapi sekali lagi itu adalah idealnya…

Begitulah kira-kira pemahaman saya, jadi apapun alat ukur yang kita pakai (mungkin berbeda dengan saya karena perbedaan keyakinan dan perbedaan lingkungan) paling tidak saya yakin kalau kita semua sebenarnya mempunyai alat ukur yang berupa hati nurani. Tinggal bagaimana kita memelihara alat ukur kita. Bagaimana kita menjaga hati dan nurani kita agar tetap jernih sehingga selalu terkalibrasi dengan ukuran standar yang kita punyai (bagi yang muslim Quran dan Sunnah Rasul). Dengan memeliha alat-alat tersebut, maka kita berharap selalu bisa mengukur segala hal dengan benar, setidak-tidaknya mendekati kebenaran.

Keterbatasan ilmu membuat pemahaman saya hanya sampai sekian. Jika ingin menambahi atau mengoreksi, dengan senang hati saya persilahkan… ^_^


Next......

Ketika dunia dalam genggaman


Mungkin apa yang saya tulis ini hanya sedikit kekhawatiran seorang yang berkutat dengan dunia anak (remaja khususnya). Saya hanya prihatin dengan pergeseran moral dari beberapa oknum anak didik yang kayaknya sudah diluar batas pelanggaran nilai-nilai moral, susila dan agama. Masih ingat bukan beberapa kasus video anak sekolah yang tidak layak itu?

Saya tahu kita tidak boleh berandai-andai, tapi saya tidak bisa berhenti untuk tidak berpikir seperti apa ya bangsa ini 10 atau 20 tahun ke depan, kalo dilihat dari mental dan moral anak, bahkan mahasiswa, yang kadang sudah ”diluar jangkauan”. Jika selama ini kita mungkin hanya bisa mempersalahkan pejabat yang korup dan yang lain sejenisnya, tapi moralitas anak bangsa calon para pejabat ini kayaknya luput dari perhatian. Padahal secara de facto, kita tahu bahwa masa depan Indonesia berada di tangan mereka. Sebentar lagi, mereka pasti menggantikan para pejabat yang kita masalahkan itu.

Banyak opini yang mengatakan kalau semua ini karena dampak perkembangan tehnologi. Hah? Ada apa memang dengan tehnologi? Tehnologi memang berkembang dengan pesat, tehnologi IT khususnya. Dan kita tidak bisa mencegahnya, lalu dimana salahnya? Apa benar tehnologi (disini saya persempit menjadi internet) yang menjadi biang kerok pergeseran ini?

Internet.. Kini memang menjadi media komunikasi lintas dunia tanpa batas. Betul-betul tanpa batas, karena yang kita anggap tabupun sekarang bisa kita jumpai di internet dengan mudah dan murah. Nahkan, betul? Berarti kita tidak usah menggunakannya saja?

Sangat naif kalau kita sampai berpikiran seperti itu, karena bagaimanapun selalu ada dua sisi yang menyertai sesuatu itu, positif dan negatif. Memang ada akibat serangan globalisasi yang cukup potensial yang membawa sinyal kebebasan tanpa batas dan iklim hak asasi manusia yang mengakibatkan terjadinya penyalahgunaan. Tapi kita juga tidak bisa bohong kalau ada banyak pula manfaat yang bisa kita ambil dari internet. Dengan internet banyak hal dalam hidup kita yang bisa dipermudah, baik secara kualitas maupun kuantitas (mungkin bisa sharing dg teman blogger salah satu manfaatnya). Saya percaya tehnologi itu dibuat untuk mempermudah hidup manusia, bukan justru mempersulit apalagi “merendahkan” manusia.

Dengan internet, seakan dunia memang dalam genggaman. Semua serba mudah, cepat dan murah (Plis Pak Telkom tarifnya jangan terus membumbung). Yang menjadi masalah sekarang justru ketika dunia sudah ada dalam genggaman kita, bagaimana kita lalu menyikapinya. Apakah internet akan kita jadikan sebagai fasilitas untuk mempermudah hidup kita atau justru menjadi candu perusak yang akan menggerogoti fisik dan moral kita? Candu? Yups, karena ada teman saya yang sampai uring-uringan jika sehari saja tidak ngenet saking addictednya. Yuuhuuu..Plis deh, internet itu hanya tools tambahan yang tidak akan membuat kita gak berdaya apalagi mati.

Menjadi anugrah ataupun musibah, jawabannya sangat tergantung pada apa yang ada pada pikiran kita. Kalau kita termasuk orang yang berpikir bahwa hidup adalah amanah Allah dan oleh karenanya memandang Tehnologi sebagai salah satu poin pertanyaan dalam laporan pertanggungjawaban kita di akherat nanti, InsyaAllah kita akan menggunakannya dengan bijaksana.

Jadi ingat ungkapan Einstein “Science without religion is lame, Religion without science is blind”. Mudah2an saja, niat baik dunia pendidikan untuk meng-komputer-isasi-kan sekolah benar-benar didukung dengan perbaikan moral dan mental bangsa ke arah yang lebih baik lagi…

Mungkin salah satu penyebab hal tersebut, diantaranya karena rendahnya pendidikan akidah dan keagamaan terutama yang menyangkut dengan pendidikan akhlak. Oleh karena itu agar generasi bangsa Indonesia tidak mengalami seperti pada masa jahiliayah dan secara generalisasi tidak terjadi dekandensi moral yang berkepanjangan maka solusi yang paling ampuh adalah hendaknya menanamkan pendidikan agama yang utuh dan jitu, dan ini harus melibatkan sistem pendidikan keluarga, pemerintah dan lingkungan (kita semua termasuk didalamnya).

Kita tidak hanya butuh generasi cerdas, tapi kita lebih butuh generasi yang berintelektual, berilmu dan bermoral...

Next......