Ajeng's Blog

Setiap sesuatu itu berkurang jika diinfakkan kecuali ilmu [Ali bin Abi Thalib r.a.]

Kita bukan bangsa pemalas..

Kemarin disebuah tempat makan saya secara tidak sengaja mendengar pembicaraan orang disebelah saya (beneran tidak bermaksud menguping loh,secara mereka lumayan jelas berbicaranya). Dan karena hanya mendengar, maka saya tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya mendengarkan dan menahan jengkel. Karena akan sangat tidak lucu kalau saya ikut nimbrung bahkan mendebat pembicaraan mereka. Makanya saya hanya bisa ngrundel sendiri dan akhirnya menuliskan gerundelan saya itu disini (halah..).

Kata mbak dan mas dimeja sebelah saya itu, kita –Bangsa Indonesia ini- adalah bangsa pemalas. Padahal ketika saya amati, mereka sepertinya juga penduduk pribumi, bahasa Indonesia mereka juga jelas tidak kebule-bulean bahkan terasa agak medok jawa kayak saya. Jadi bisa dipastikan kalau mereka itu masih Warga Negera Indonesia. Dengan kata lain mereka mengatai diri mereka sendiri, karena bukankah mereka bagian di dalamnya.

Pendapat negatif tentang bangsa Indonesia sering kita dengar. Bukan hal baru bila dikatakan bangsa korup, tertinggal, berpendidikan rendah, banyak barang bajakan, jiwa entrepreneurshipnya rendah, dll. Tidak hanya orang luar yang berkomentar, namun orang Indonesia sendiri, sering bangga mengatakan hal yang sama.

Padahal menurut teori psikilogi, bila kita terus menerus menyemangati diri kita sendiri, kita bisa, kita bisa, kita mampu, maka akan muncul semangat, kepercayaan diri dan akhirnya muncul kemampuan bahwa kita memang bisa. Begitupun bila terus menerus kita dikatakan terbelakang, bodoh, tidak berkembang, maka lama-lama kita akan percaya bahwa itulah kita.

Mungkin saja ada sedikit benarnya pendapat itu kalau kita melihatnya hanya dari jendela sebuah rumah mewah dan jauh dari realita sosial. Ada banyak orang yg dengan sadarnya meminta-minta, ada banyak orang berebut kala penerimaan BLT, ada banyak orang yg lebih senang menghabiskan waktu mereka nyangkruk diwarung, nongkrong dipinggir jalan, dan ada banyak pengangguran diluar sana.

Ya, itu semua betul. Tapi cobalah sudut pandang lain. Bangunlah kala subuh dan menuju pasar. Lihatlah geliat pagi disana. Jauh sebelum matahari mengintip, banyak dari mereka yang sudah bergegas menjemput rejeki. Dari yg masih muda sampai dengan yg sudah sepuh, dari pedagang dg omset jutaan sampai pedagang sayur dg untung puluhan ribu, dari juragan sampai kuli panggul, perempuan dan laki-laki. Masihkah kita bisa mengatakan kalau bangsa kita pemalas?

Lihatlah Mbah Mi langganan sayur saya, dalam usia yang tidak lagi muda dan punggung yg mulai membungkuk terus menggendong beban berat yang di jajakannya setiap pagi dan sore, namun tetap saja keuntungan yang diperolehnya tidak pernah bisa merubah menu makannya. Lalu Pak Ji Becak yg dg sabarnya menggayuh becaknya puluhan tahun, yg walaupun demikian tetap saja belum mampu untuk pindah dari rumah kontrakannya. Padahal diluar sana ada puluhan, ratusan bahkan mungkin jutaan Pak Ji dan Mbah Mi lainnya. Belum lagi kalau kita melihat puluhan anak kecil diperempatan jalan yg menjajakan koran atau membawa kuas semir hanya untuk menambah biaya sekolah karena penghasilan orang tuanya yg tidak pernah cukup. Jadi masih salahkah bila mereka sedikit berharap kala ada pembagian BLT?

Jika contoh relita sosial yang biasa kita saksikan adalah demikian, masih tegakah kita mengatakan bahwa bangsa ini pemalas? Masih tegakah anak manja yang tidak pernah dihiasi cucuran keringat demi mendapatkan secuil upah itu membenarkan diri dg mengatakan bahwa bangsa ini adalah bangsa pemalas?

Lalu bagaimana juga dg ibu-ibu yg meneteskan air mata tanpa isakan tangis, saat sekolah begitu mahal bahkan sekarang makan pun sangat kesulitan. Mereka begitu hebat menyiasati sepuluh ribu rupiah per hari untuk menghidupi lima orang anak. Mereka berkutat dalam lingkaran kurang gizi, pendidikan rendah dan ekonomi susah. Apakah mereka termasuk bangsa pemalas?

TIDAK, bangsa ini bukan bangsa pemalas. Bangsa ini adalah bangsa pekerja keras yg disetiap darahnya mengalir darah para pejuang kehidupan. Bangsa ini adalah bangsa yg kuat. Berhentilah mengatakan atau berfikir bahwa bangsa ini adalah bangsa pemalas, sebab bangsa ini memiliki kekuatan yg luar biasa, bangsa ini telah terlatih menghadapi penderitaan apapun.

Bila saat ini kita terpuruk, itu hanyalah karena ulah sebagian kecil pengkhianat yg mencuri di negerinya sendiri. Mereka miskin, tapi bukan karena malas. Mereka orang-orang besar, meneteskan keringat dari subuh sampai malam, untuk hidup. Setiap hari, mereka bekerja. Tidak mengenal libur akhir pekan. Mereka disebut orang kecil, karena kita yang mengenyam pendidikan puluhan tahun, harusnya menjadi orang besar yang sanggup mengangkat derajat mereka. Namun banyak di antara kita terlena, pura-pura sok peduli tapi tidak melakukan tindakan apa-apa. Karena terkadang kita, orang-orang yg sedikit diberi kelebihan oleh-Nya masih begitu enggan menggenggam tangan-tangan mulia itu. Memberikan sedikit ilmu kita, mendermakan setitik harta kita.

Tugas kita bersamalah untuk kembali mengangkat martabat itu kembali. Mari kita bersama berjuang dengan orang-orang kecil yang berjiwa besar ini.

Mulai dg melakukan hal-hal kecil pada diri dan lingkungan sekitar kita. Saya percaya bila kita melakukannya bersama-sama maka akan menghasilkan perubahan besar. Hingga saat anak-anak kita lahir, kita bisa mengatakan pada mereka, bahwa kita memang bangsa besar bukan bangsa pemalas..


Lega setelah melepaskan gerundelan dihati. Ohya, ini sekaligus aku gunakan untuk memajang award dari Mbak Ritma. Terima kasih award cantiknya mbak, semoga menjadikan saya, kita semua jadi makin rajin blogging. Award ini juga saya persilahkan diambil oleh siapa saja yg berkunjung kerumah bunga ini, sebagai tanda hormat saya pada teman-teman blogger semua.

Next......

Tentang sebuah penerimaan..

Tidak tahu kenapa tiba-tiba pengen menulis tentang cinta. Sedang jatuh cintakah saya? Mungkin percakapan dengan teman tadi sore yang memberi saya sedikit inspirasi untuk menulis ini, juga setelah membaca sebuah file cerpen saya yang tak kunjung selesai. Semua berawal dari kalimat “cinta itu bukan berarti mencintai seseorang yang sempurna. Tapi cinta itu mencintai seseorang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna”

Ehm, kata-kata yang indah ya? Tidak tahu siapa yang mempunyai kalimat tersebut, tapi yang jelas saya mengambilnya dari sebuah majalah. Saya sendiri mendefinisikan cinta sebagai penerimaan diri sendiri. Ibaratnya cinta itu adalah pertempuran melawan ego diri sendiri. Karena kita akan bisa mencintai orang lain ketika kita sudah mampu menerima diri sendiri. Bagaimana mungkin kita bisa mencintai orang lain sementara untuk menerima kekurangan dan kelebihan diri kita sendiri saja masih belum bisa. Bukankah tidak ada seorangpun yang sempurna, jadi terimalah bahwa diri kita memang tidak sempurna. Sehingga kita pun bisa menerima ketika mendapati ketidaksempurnaan orang lain. Mencintai berarti menerima diri sendiri dulu sebelum bisa menerima orang lain.

Kita juga tidak bisa menjalin hubungan saat kita niatkan hubungan itu untuk mengubah orang lain agar sesuai dengan apa yang kita inginkan. Bukankah katanya jodoh itu untuk menggenapkan bukan untuk mencari yang sempurna. Memang ada kalanya untuk cinta seseorang mau melakukan sesuatu yang tidak disukainya. Dan itulah pengorbanan. Untuk beberapa kasus sepertinya beberapa pengorbanan memang diperlukan. Tapi sekali lagi ‘ada kalanya’ yang itu berarti tidak setiap saat. Karena kita tetaplah diri dengan pribadi masing-masing sebelum bertemu. Kita tidak mungkin menuntut sama persis seperti yang kita mau. Kita hanya bisa bertoleransi sedemikian rupa hingga tercipta keharmonisan (Jiah..kayaknya teori saya sudah komplit nih, tinggal prakteknya). *Gubraks*

Lalu cara mencintai yang sempurna itu, bagaimana? Jujur saya tidak tahu, karena seperti yang kakak saya bilang, it’s just flowing..like a water. Semua akan mengalir seiring dengan berjalannya waktu. Karena teori semutakhir apapun akan runtuh kalau sudah berhadapan dg yang namanya ‘kejadian hidup’. Masing-masing pasangan akan menemukan ‘formula’ sendiri untuk mencintai pasangannya dengan sempurna. Saya yakin jika cintanya ‘ikhlas’ maka formula yang dihasilkannya juga akan bagus.

Tapi perjalanan saya sendiri untuk mencari seseorang itu masih baru diujung jalan, karena bukankah semua orang perlu meyakinkan diri apakah yang dipilihnya kelak itu adalah yang menggenapkannya atau bukan. Saya masih harus berjuang untuk menjemput takdir saya. Namun saya yakin, seperti yang selalu saya katakan pada sahabat saya, bahwa semua akan indah pada saatnya.

Dan bagi teman-teman yang sudah memilih dan berkomitmen dalam sebuah ikatan maka saya ucapkan selamat karena itu berarti perjalananmu beribadah kepada-Nya sudah separuh terlewati. Bukankah menikah itu berarti menggenapkan separuh Dien kita..?

Sudah sampai masa kita untuk mulai menjalani kehidupan dengan sesungguh-sungguhnya. Inilah sekolah kehidupan kita, guru sekaligus pengujinya adalah kehidupan. Dimana berhasil atau tidaknya kita dalam ujian, nilainya adalah kehidupan yang akan kita jalani.


Kesempatan ini juga aku gunakan untuk memajang award dari Mbak Reni (malu karena pada posting sebelumnya Mbak Reni bilang kalo saya jarang majang award :D ). Emang mbak..mungkin sayalah diantara teman-teman yang paling jarang majang award. Mohon maaf.. Terima kasih awardnya ya mbak, tahu saja kalo saya suka coklat :)

Next......

Tentang menjadi seorang ibu..

Tidak sengaja, sore kemarin disebuah perempatan jalan saya melihat seorang ibu dengan 2 putra diboncengan motornya. Sebuah keranjang besar ada dibawah kakinya, sepertinya belanjaan (jika dilihat banyaknya barang yg dibawa barangkali beliau seorang pedagang). Mungkin beliau baru menjemput sang putra (karena putranya masih berseragam sekolah) sekalian belanja untuk keperluan dapur atau keperluan dagangannya. Saya tidak tahu bagaimana kehidupan ibu tersebut, yang ada dipikiran saya hanya betapa tangguhnya ibu tersebut.

Ibu seperti itu ada dimana-mana, bahkan mungkin didekat kita sendiri. Mereka adalah ibu-ibu tanpa pilihan (tapi saya yakin itu juga adalah pilihan). Meraka adalah ibu-ibu yang harus menjalankan kedua fungsi secara bersamaan. Fungsi domestik yang mengajarkan kelembutan dan fungsi publik yang menuntut kekerasan. Mereka kebetulan bukanlah perempuan yang dimanjakan dengan ‘fasilitas’ suami sehingga mereka bisa mengayun anaknya sambil menonton gossip dan mencoba resep baru dari majalah. Mereka bukan ladies who lunch di cafĂ© lalu keluar masuk butik.

Teman saya (yang memutuskan menikah ketika masih semester tiga) adalah seorang ibu muda dengan 1 putra dan seorang lagi masih ada didalam kandungannya ketika takdir mengantarkannya menjadi seorang janda setelah sang suami meninggal dalam sebuah kecelakaan. Dia yang ceria dan lincah itu lalu berhenti menangis untuk kemudian mengambil alih peran sebagai kepala keluarga untuk keluarga kecilnya. Alhamdulillah sekarang dia sudah menemukan lagi seorang yang insyaAllah akan menjadi imamnya. Semoga calonnya ini kelak akan mengambil beban yg sudah sekian tahun tersampir dipundaknya.

Teman dan ibu diperempatan jalan itu telah memaksa saya untuk merenung. Siapkah saya dibawa takdir ke dalam situasi yang sama? Siapakah yang bisa kita tuntut kalau sudah takdir yang berbicara?

Ibu saya sendiri telah mengajarkan pada saya, bahwa hidup tidak melulu tentang tuntut menuntut jika telah berhadapan dengan sebuah amanah indah bernama anak. Yang mungkin oleh kaum feminis akan dikecam sebagai perempuan yang tak tahu haknya atau bahkan perlu dikasihani karena tak punya pilihan untuk sekedar mendapatkan haknya.

Dulu setiap hari saya selalu melihat ibu saya pagi-pagi sekali sudah mempersiapkan sarapan, seragam dan bekal anak-anaknya sebelum kemudian berangkat kepasar membuka lapaknya (kebetulan ibu saya adalah pedagang). Ketika saya tanyakan kenapa harus berdagang padahal harusnya menafkahi keluarga adalah tanggung jawab suami? Beliau menjawab “Dan bapak sudah menunjukkan tanggung jawabnya kan? Bapak sudah menafkahi kita dengan baik. Ibu bekerja bukan untuk mencari nafkah, tapi hanya untuk memastikan kalau kalian nanti akan terjamin sekolahnya. Kita tidak mau yang buruk terjadi, tapi siapa yang tahu akan masa depan? Ibu tidak mau jika terjadi sesuatu dg bapak, ibu kebingungan untuk menafkahi kalian. Kalaupun Bapak baik-baik saja, itu pinta kita semua, setidaknya ibu bisa membantu menambah tabungan untuk sekolah kalian”.

Alhamdulillah ya Allah, telah Engkau tetapkan kami lahir dari sosok sabar, tegar dan berpandangan ke depan seperti ini. Karena banyak yang tidak seberuntung kami.. Duh Allah semoga tidak akan pernah habis anugrah-Mu kepada keluarga kami.

Mereka bukanlah sosok yang dengan penuh semangat berbicara tentang menjadi perempuan tangguh dan tegar dipodium seminar-seminar, mereka juga bukan feminis yang meneriakkan kesamaan gender. Namun mereka dengan kelemah lembutannya justru menunjukkan kepada dunia bahwa mereka adalah sosok tegar dan tangguh yang dengan atau tanpa diminta sanggup mengerjakan peran apapun sepanjang sesuai dengan syari’. Mereka menunjukkan kesetaraan gender yang sesungguhnya (saya lebih nyaman menyebut kesetaraan dari pada kesamaan, karena laki-laki dan perempuan memang tidak akan pernah bisa sama).

Semua melulu atas nama cinta pada Penciptanya dan sesosok kecil bernama anak.

Maka kelak, jika saya dijinkan-Nya menjadi seorang ibu, saya hanya ingin menjadi seorang ibu sejati, dengan segala fungsi yang bisa saya jalankan demi keluarga.

Ehm..kenapa tiba-tiba saya ingin mendengarkan lagu Ibu milik Iwan Fals ya?

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh..
Lewati rintangan bagi aku anakmu..
Ibuku sayang masih terus berjalan..
Walau tapak kaki penuh darah, penuh nanah..
Seperti udara kasih yang engkau berikan..Tak mampu ku membalas ibu, ibu..

Next......

Sapalah hati kami..

Beberapa hari yang lalu saya dan ibu mendatangi undangan dari seorang kerabat jauh. Sangat jauh bahkan, karena rasanya saya hampir tidak mengenalnya. Walaupun secara silsilah kami sebenarnya tidaklah terlalu jauh. Ehm, mungkin karena strata sosial kami yang berbeda? Entahlah.

Ada yang membuat saya termangu disana. Bukan karena kemewahan yang baru saya lihat kali ini, bukan juga ketika menyadari bahwa sofa yang saya duduki harganya setahun gaji saya, bahkan bukan pula lampu Kristal yang saya yakin setelah menabung beberapa tahun baru akan terbeli oleh saya (itupun jika tidak saya ambil karena suatu keperluan).

Yang membuatku termangu karena penerimaan sang tuan rumah. Entah kenapa sedari tadi kami datang belum sedikitpun senyum tersungging untuk kami juga untuk beberapa tamu yang masih kerabat kami. Perasaan ingin segera berlalu membuatku tidak nyaman dan saya lihat hal yang sama pada raut wajah orang-orang yang hadir disana. Jika bukan karena ibu, saya sudah pergi dari tadi pastinya. Tidak bisakah mereka bersikap hangat kepada kami? Bukankah kami adalah tamu mereka? Kami datang karena memenuhi undangan mereka?

Mungkinkah beliau sedang ada masalah sehingga wajahnya tampak begitu ‘kerucut’? Ehm..berbaik sangka saja, mungkin sedang sakit gigi, pikirku. Tapi ketika kusaksikan anak-anaknya juga berbuat hal yang sama, setan mulai menghampiriku sambil meniup-niupkan prasangka buruknya, “Buat apa kaya kalau judes. “ Bukankah nanti kami juga akan ditanyai dari mana kami peroleh dan kami gunakan untuk apa harta kami. Kalau harta sebanyak ini pasti hisabnya lama (hehehe..berusaha ngedem-edem ati).

Astaqfirullah, sebisa mungkin saya usir perasaan itu. Bukankah saya tidak mau orang lain menduga-duga yang tidak baik juga tentangku. Bersu’udzon begitu kepadaku?

Yach, mungkin berbeda pendapat dengan kerabat kami itu. Entah kenapa saya tidak suka ketika ada orang yang bertandang ke rumah kami namun yang dinilai adalah keadaan rumah kami. Memang tidak ada sofa mewah apalagi lampu Kristal dirumah kami. Namun bukankah di rumah kami ada senyum hangat dan keramahan untuk memuliakan tamu? Rumah sederhana kami mungkin tidak cukup besar, namun hati hami luas untuk silaturahmi..

Datanglah ke rumah kami, tataplah mata kami, pandanglah wajah kami lalu ucapkan salam. Sapalah hati kami, karena bagi kami rumah yang sesungguhnya ada di hati. Bertamulah ke hati saya, bukan sekedar ke rumah saya. Jangan lihat ruang tamu kami yang kecil, jangan bandingkan perabot rumah kami, namun lihatlah mata kami dan sapalah hati kami..

Agaknya saya harus berterima kasih pada kerabat saya itu. Setidaknya dengan bertandang ke rumahnya saya menjadi semakin sadar bahwa saya memang butuh harta namun harta bukanlah segalanya..

Oh iya, sebelum kelupaan. Ini sekalian saya pasang award dari Bu Elly dan Mbak Fanda. Terima kasih sekali untuk award yang cantik ini. Semoga kita bisa terus berbagi. Award ini juga saya berikan pada semua teman yang sudah mampir di rumah bunga ini, silahkan diambil award ini sebagai tanda persahabatan saya..



Next......